Tiga Jalur Satu Tujuan: Belajar Arti Terhubung dari Mentawai
Suara mesin pesawat kecil itu masih terdengar samar dari kejauhan ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Udara Mentawai, empat tahun lalu. Landasannya tidak begitu panjang. Pohon kelapa berjajar miringdi kedua sisinya tertiup angin laut, dan di ujung landasan, air laut berwarna biru kehijauan menyatu dengan langit. Waktu itu saya datang tanpa membawa bayangan tentang betapa berbedanya arti kata "terhubung" dilihat dari sini, dari salah satu titik terluar ujung barat negeri ini. Di Jakarta, terhubung berarti sinyal yang tidak putus atau kereta cepat yang datang tepat waktu. Di Kepulauan Mentawai, terhubung berarti hal yang lebih mendasar. Terhubung itu sesederhana, tentang kapal jadi datang atau tidak minggu ini, pesawat benar-benar terbang di hari Selasa dan Sabtu besok, dan bus DAMRI jalan seperti biasa pagi ini. Konektivitas di sini menentukan seorang anak bisa berangkat sekolah tepat waktu dan nyawa yang bisa diselamatkan waktu itu. Perjalanan Bus DAMRI rute Tua Pejat-Sioban mengantar anak sekolah. (Sumber: dokumentasi pribadi penulis) Rute yang Jadi Urat Nadi Anak Sekolah Setiap pagi, sebelum jam tujuh, bus DAMRI berwarna putih melintas di depan Bandara Mentawai, membawa anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu. Trayeknya sederhana di atas kertas yaitu Tua Pejat–Sioban, dengan rute sepanjang 45 kilometer, dimulai dari Pelabuhan Tua Pejat, melewati Bandara Mentawai, dan berakhir di Pelabuhan Sioban. Bagi saya yang menyaksikannya hampir tiap hari, sepanjang rute itu adalah garis kehidupan warga Mentawai. Seorang siswa SMK di Saureinu pernah bercerita kepada saya. Jika bus DAMRI itu tidak beroperasi karena kerusakan atau cuaca buruk, anak-anak di sepanjang rute itu harus berjalan kaki, kadang sampai 3 hingga 7 kilometer menyusuri jalan yang kanan kiri dikelilingi hutan yang jarang pemukiman. Cerita ini juga saya dengar langsung dari Redianto Samuntei, salah satu orang tua siswa di Mentawai. Ia berkata, "Adanya angkutan DAMRI ini sangat membantu kami sebagai orang tua. Anak-anak kami menjadi lebih mudah untuk pergi ke sekolah, apalagi kami yang harus melaut sejak malam dan tidak selalu bisa mengantar. Masih banyak juga saudara kami di sini yang belum memiliki kendaraan pribadi. Jadi, angkutan DAMRI sangat membantu anak-anak kami untuk tetap bisa bersekolah." Begitu pengakuan seorang ayah yang merasakan langsung manfaat bus perintis itu. Bus yang dikelola Perum DAMRI ini juga mengangkut barang warga dari Sipora Utara ke Sipora Selatan membawa hasil bumi dan kebutuhan pokok bersama rombongan siswa-siswi itu.ktivitas bongkar muat barang setelah kapal perintis Sabuk Nusantara 68 bersandar di dermaga Tua Pejat. (Sumber: dokumentasi pribadi penulis)Pagi di Dermaga Tua Pejat Angkutan darat menghubungkan desa dengan desa. Di laut, tugas itu diemban kapal-kapal perintis yang jadwalnya begitu dihafal warga Mentawai. Dua nama kapal akrab di telinga warga pesisir Mentawai yaitu Sabuk Nusantara 37 dan Sabuk Nusantara 68. Kapal perintis Sabuk Nusantara 37 melayani trayek R-3, dengan siklus pelayaran (voyage) 12 hari dan hingga 30 kali pelayaran, yang dikelola oleh operator swasta. Sabuk Nusantara 68 melayani trayek R-4 dengan pola voyage yang sama, di bawah pengelolaan PT PELNI (Persero). Kedua kapal ini menghubungkan pulau-pulau kecil di gugusan Mentawai dengan daratan Sumatera. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan, tahun anggaran 2026 pemerintah mengoperasikan 107 trayek kapal perintis, 41 trayek Tol Laut, 6 trayek kapal khusus ternak, dan 18 trayek rede transport, ditambah 25 trayek PSO kapal ekonomi dengan total 197 trayek angkutan laut perintis dan PSO di seluruh Indonesia, guna "menjamin akses transportasi dan distribusi logistik" ke berbagai wilayah Indonesia. Kapal Sabuk Nusantara yang biasa saya lihat sandar di dermaga Tua Pejat itu adalah salah satu dari ratusan trayek tersebut. Saya masih ingat suatu sore ketika kapal perintis bersandar di dermaga Tua Pejat. Dalam hitungan menit, dermaga yang tadinya sepi berubah ramai. Warga menaikkan karung-karung kopra, sementara kardus berisi kebutuhan pokok turun dari kapal. Di antara kerumunan itu, terlihat seorang penumpang baru saja pulang dari berobat di kota. Tak jauh darinya seorang pemuda turun dengan penuh sukacita membawa gelar sarjana pertama di keluarganya. Kapal-kapal ini mengangkut barang sekaligus harapan, mempertemukan yang lama berpisah, sertamembuka jalan bagi warga di wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar dan perbatasan) untuk tetap merasa jadi bagian dari negerinya sendiri. Ground staff Susi Air sedang bongkar muat bagasi penumpang di Bandara Mentawai.(Sumber: dokumentasi pribadi penulis)Empat Puluh Menit ke Padang Pukul 07.40 WIB, pagi itu pesawat Susi Air mendarat dengan selamat di Bandara Mentawai. Orang sini sering panggil pesawat kecil ini "pesawat capung". Hanya dua kali seminggu setiap Selasa dan Sabtu, tapi itulah satu-satunya penghubung Padang-Mentawai lewat udara. Hanya butuh sekitar empat puluh menit di udara. Lewat laut, warga bisa menghabiskan berjam-jam, bahkan berhari-hari, tergantung cuaca dan gelombang. Data Sisfoangud mencatat, sepanjang 2025, Bandar Udara Mentawai melayani 243 penerbangan dengan total 2.607 penumpang. Angka itu terlihat kecil dibandingkan bandara-bandara besar di kota lain, tapi di sini setiap penerbangan punya cerita sendiri. Mulai dari ibu hamil yang dirujuk ke rumah sakit di Padang karena kondisi darurat, sampai wisatawan yang sekadar ingin melihat keindahan Mentawai yang kerap disebut "Maldives-nya Indonesia". Empat puluh menit di udara jauh lebih berarti daripada berhari-hari menunggu kapal berikutnya. Mentawai berada di atas zona megathrust, wilayah yang sewaktu-waktu bisa diguncang gempa besar dan tsunami. Justru pada saat itulah jalur laut yang biasanya jadi andalan warga sehari-hari, kini menjadi lumpuh. Di sanalah bandara ini berubah fungsi. Landasan yang biasanya melayani penerbangan perintis mendadak jadi jalur masuk tercepat untuk tim SAR, BPBD, dan tenaga kesehatan memainkan perannya. Bagi masyarakat kepulauan yang terisolasi seperti Mentawai, selisih waktu itu bukan angka di atas kertas. Itu bisa jadi penentu antara nyawa yang selamat atau pertolongan yang datang terlambat. Layanan angkutan udara perintis ini bagian dari jaringan besar yang dikelola Kementerian Perhubungan, mencakup 22 koordinator wilayah dengan 266 rute penerbangan perintis penumpang, 46 rute kargo, dan 1 rute kargo bersubsidi, tersebar di seluruh Indonesia. Angka yang menurut Menhub Dudy Purwagandhi masih perlu ditopang subsidi karena secara bisnis belum menguntungkan operator. Mentawai adalah satu titik dari ratusan titik lainnya, yang tanpa program ini mungkin akan sulit terjangkau dari dunia luar.Kegiatan apel pagi di Bandara Mentawai sebelum kegiatan operasional. (Sumber: dokumentasi pribadi penulis)Antara Apel Pagi dan Anak yang Mengejar Bus DAMRI Sebelum ditugaskan ke sini, saya membayangkan pekerjaan ini hanya akan berkutat dengan data, laporan, dan apel pagi. Yang tidak saya duga adalah betapa dekatnya saya akhirnya dengan cerita-cerita kecil di balik anak yang berlari mengejar bus DAMRI dan keluarga yang menunggu jadwal Susi Air demi bisa berkumpul kembali. Program angkutan perintis, baik di darat, laut maupun udara, sering disebut kebijakan afirmatif untuk daerah 3TP. Tapi coba tanya pedagang sembako di Sipora Utara, jawabannya pasti lebih sederhana dari itu. Program ini salah satu alasan harga bahan pokok di kiosnya tidak tiga kali lipat dibanding harga di Padang, karena angkutan perintis hadir menjangkau mereka sekaligus menyambungkan pulau kecil itu ke Indonesia, meski laut memisahkannya dari ibu kota. Kapal Sabuk Nusantara terus berlabuh, bus DAMRI melintas membawa anak-anak sekolah, dan pesawat Susi Air berhasil mendarat dengan selamat di landasan Bandara Mentawai. Di situlah saya melihat makna "Terhubung untuk Negeri, Bergerak Melayani". Bukan sebagai slogan di panggung seremoni, tapi sebagai kerja nyata yang tebukti perlahan, di daerah-daerah yang jarang disebut namanya tetapi selalu menunggu untuk tetap terhubung. Selama angkutan perintis itu terus bergerak, harapan warga Mentawai untuk hidup setara dengan saudara-saudaranya di belahan Indonesia lain juga akan terus bergerak. Perlahan tapi pasti, menuju negeri yang terhubung dengan semua wilayahnya tanpa terkecuali. _________________Tulisan ini merupakan tulisan pemenang juara 1 pada Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Gandi Priutomo dari Kantor UPBU Kelas III Mentawai._________________
-
Biro Komunikasi dan Informasi Publik