Jakarta – Hamparan gelap laut pada malam hari, cuaca yang tidak menentu, serta medan yang sulit menjadi bagian dari keseharian para pelaut. Di tengah kondisi tersebut, pendar cahaya mercusuar menjadi salah satu penanda yang membantu pelaut menentukan arah dan menjaga perjalanan tetap aman
Di balik cahaya yang terlihat dari kejauhan, terdapat para petugas yang memastikan fasilitas navigasi tetap berfungsi. Mereka bekerja di lokasi yang jauh dari keramaian, meninggalkan keluarga dan kehidupan di daratan untuk menjalankan tugas di berbagai wilayah terpencil, termasuk pulau-pulau terluar.
Bagi penjaga mercusuar, keterpencilan bukan sekadar kondisi geografis, melainkan bagian dari tempat mereka bekerja dan mengabdi. Selama bertugas, mereka harus beradaptasi dengan kondisi alam, keterbatasan akses transportasi, medan yang berat, hingga rasa sepi karena jauh dari keluarga.
Kehidupan tersebut telah dijalani Ahmad Romdan selama lebih dari 30 tahun. Sebagai Ketua Tim Teknis Pos Pemeliharaan Banten Periode I dan II sekaligus teknisi menara suar, Ahmad telah berkeliling ke sejumlah lokasi penempatan, mulai dari Banten, Bengkulu, Pulau Serutu di Selat Karimata, hingga Cirebon.
Pengalaman panjang tersebut membuat Ahmad memahami bahwa tugas menjaga menara suar tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan teknis. Di lapangan, para petugas juga harus menghadapi kondisi geografis dan lingkungan yang tidak selalu mudah.
“Kebanyakan tugas kita itu di tengah laut, jauh dari keramaian pastinya. Dari jauhnya lokasi itu memang banyak pulau yang bukan hanya terpencil, mungkin sangat terpencil karena hanya kita-kita saja di sana,” ujar Ahmad dalam Podcast HubTalks Episode 26.
Berhadapan dengan Alam dan Medan yang Sulit
Penempatan di lokasi terpencil membuat kondisi alam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan. Rasa sepi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga fasilitas navigasi. Medan yang sulit juga menjadi tantangan, terutama ketika petugas harus membawa kebutuhan logistik menuju lokasi menara suar.
“Yang paling terasa mungkin rasa sepi dan sebagainya, kondisi alam tidak seperti di kota yang sudah lebih bagus. Misalnya mungkin ada endemik malaria, kemudian cuaca, serta medan tugas kita yang menanjak karena harus membawa logistik sampai ke atas,” ungkap Ahmad.
Tantangan tidak berhenti ketika kapal yang membawa logistik tiba di sekitar pulau. Petugas terlebih dahulu harus menentukan titik yang aman untuk menurunkan logistik. Dari titik tersebut, perjalanan menuju mercusuar masih harus ditempuh dengan membawa kebutuhan secara bertahap. Jarak dari titik penyimpanan di pantai menuju lokasi mercusuar dapat mencapai satu hingga dua kilometer, ditambah kondisi medan dan ketinggian yang harus dilalui.
“Dari titik aman itu belum tentu dekat dari mercusuar itu sendiri, mungkin ada jarak 1 atau 2 kilo, ditambah lagi ada ketinggian. Tapi di pantai kita biasanya ada gudang simpan. Jadi logistik tidak sekaligus kita angkat, melainkan bertahap. Tugas harian kita adalah membawa logistik itu ke tempat kita,” jelas Ahmad.
Hal-hal yang sederhana dilakukan di daratan, seperti mendapatkan kebutuhan sehari-hari atau membawa barang, dapat menjadi pekerjaan tersendiri di pulau terpencil. Kondisi tersebut menuntut ketahanan fisik sekaligus kemampuan beradaptasi dengan lingkngan.
Menjaga Kondisi di Wilayah Endemik
Selain kondisi geografis, faktor kesehatan juga menjadi perhatian bagi petugas yang ditempatkan di wilayah tertentu. Ahmad menceritakan bahwa para petugas mendapatkan bekal dari senior sebelum memasuki wilayah yang memiliki risiko penyakit tertentu. Salah satu bentuk pencegahan dilakukan sejak sebelum keberangkatan dengan mengonsumsi pil pencegahan sekitar satu minggu sebelum memasuki wilayah tersebut dan mengulanginya setiap minggu. Menjaga kondisi tubuh agar tetap fit juga menjadi bagian penting selama menjalankan tugas.
Namun, setelah puluhan tahun menjalani penugasan di berbagai lokasi, Ahmad menyebut bahwa tantangan terbesar bukanlah medan, cuaca, maupun risiko penyakit. Tantangan yang paling berat justru datang dari keluarga.
Pengorbanan yang Tidak Selalu Terlihat
Bertugas jauh dari daratan berarti harus menerima kemungkinan tidak dapat hadir ketika keluarga membutuhkan. Jarak yang dipisahkan laut membuat perjalanan pulang tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Ahmad. Berbagai momen penting dalam kehidupan keluarganya harus dilewati dari kejauhan, termasuk ketika orang tua meninggal dan ketika anak-anaknya lahir.
“Tantangan terberat saya adalah banyak ditinggalkan. Mertua saya meninggal, orang tua saya meninggal, saya tidak ada di dekat mereka. Kemudian saat anak-anak saya lahir, saya juga tidak ada di sisi istri saya. Kalau hari raya tidak pulang mungkin masih bisa, tapi ketika orang tua atau anak sakit sampai meninggal dan kita tidak ada di sisinya, itulah yang paling berat,” tutur Ahmad.
Komunikasi melalui telepon memang tetap dapat dilakukan. Namun, komunikasi tidak serta-merta menghilangkan persoalan jarak. Ketika terjadi keadaan darurat, keterbatasan transportasi dari pulau menuju daratan dapat menjadi persoalan serius.
“Tidak selamanya ada pertolongan cepat. Beberapa tahun lalu teman kita ada yang sakit dan meninggal di dalam perjalanan karena keterbatasan itu,” ucapnya.
Pengorbanan tersebut bukan hanya dirasakan oleh petugas, tetapi juga keluarga di rumah. Ketika kepala keluarga harus bertugas jauh, anggota keluarga harus beradaptasi dengan keadaan dan menjalankan peran masing-masing.
“Kita bekerja dengan konsisten dan memberi pengertian kepada keluarga. Artinya bukan hanya saya yang bekerja, keluarga juga ikut bekerja menerima keadaan kepala rumah tangganya harus bertugas jauh. Seorang istri harus bisa menjadi suami dan bapak sekaligus untuk anak-anaknya,” kata Ahmad.
Bagi keluarga Ahmad, salah satu cara menghadapi kondisi tersebut adalah dengan memilih kampung halaman sang istri di Bukittinggi sebagai tempat anak-anak mereka lahir dan tumbuh. Kehadiran keluarga besar memberikan dukungan ketika Ahmad harus berada jauh dari rumah karena tugas.
Jiwa Korsa Menjadi Kekuatan
Dalam kondisi penugasan yang jauh dari keluarga, keberadaan rekan kerja menjadi bagian penting dalam kehidupan para petugas. Kebersamaan tumbuh melalui rasa saling memahami dan jiwa korsa. Para petugas tidak hanya berbagi tugas, tetapi juga saling memberikan dukungan ketika menghadapi persoalan keluarga maupun kesehatan. Pengetahuan dan pengalaman di lapangan pun terus dibagikan kepada sesama rekan.
“Kita saling mengerti kebutuhan tim, baik untuk menjenguk keluarga maupun urusan kesehatan,” ujar Ahmad.
Kebersamaan tersebut menjadi kekuatan ketika akses terhadap keluarga dan lingkungan luar terbatas. Saling mendukung membuat para petugas dapat tetap menjalankan tanggung jawab meski berada jauh dari kehidupan di daratan.
Menjaga Cahaya, Menjaga Keselamatan
Setelah lebih dari tiga dekade menjalani pekerjaan tersebut, Ahmad memiliki gambaran sederhana mengenai kebahagiaan dalam bertugas. Bukan sekadar ketika masa penugasan berakhir atau ketika dapat kembali ke daratan, melainkan ketika melihat kapal-kapal tetap dapat berlayar dengan aman dan efisien.
“Kesan yang paling membahagiakan adalah ketika melihat kapal-kapal tetap bisa berlayar dengan aman dan efisien,” katanya.
Pekerjaan menjaga menara suar juga menuntut kemampuan menghadapi rasa takut. Bekerja di tengah laut, jauh dari keluarga, serta menghadapi kondisi alam yang tidak selalu dapat diprediksi bukanlah keadaan yang mudah. Namun bagi Ahmad, rasa takut harus dihadapi dengan konsistensi dalam menjalankan pekerjaan.
“Manusia pasti mempunyai rasa takut, tapi kita lawan rasa takut itu dengan konsistensi pekerjaan. Selama 24 jam rasa takut itu kita enyahkan demi keselamatan pelayaran,” sambung Ahmad.
Pada akhirnya, menjaga menara suar bukan sekadar pekerjaan rutin atau kewajiban teknis. Bagi Ahmad, pekerjaan tersebut telah menjadi sebuah panggilan tugas. Ada pengabdian yang berlangsung jauh dari sorotan: meninggalkan keluarga, menghadapi kesunyian, menaklukkan medan, membawa logistik secara bertahap, dan tetap menjaga konsistensi pekerjaan agar cahaya navigasi hadir ketika para pelaut membutuhkannya.
Cahaya mercusuar mungkin hanya terlihat sebagai titik terang di tengah gelapnya laut. Namun di balik cahaya tersebut terdapat manusia yang memastikan ia tetap menyala. Jauh dari daratan dan keluarga, para penjaga mercusuar menjalankan tugasnya dengan satu tujuan: memastikan pelayaran dapat berlangsung dengan aman. (FM/ME/HG/LOL)
