Jakarta – Ketika malam datang, laut berubah menjadi hamparan gelap yang menyulitkan pelaut membedakan arah, jarak, maupun daratan. Dalam kondisi tersebut, cahaya mercusuar yang terlihat dari kejauhan menjadi petunjuk penting bagi kapal yang sedang berlayar. Cahaya yang tampak sederhana dari daratan ternyata memiliki arti besar bagi keselamatan pelayaran.
Di balik cahaya tersebut terdapat sistem navigasi yang harus terus dijaga agar dapat berfungsi dengan baik, termasuk ketika berada di lokasi yang jauh dari keramaian dan menghadapi kondisi alam yang tidak selalu bersahabat. Para petugas memastikan fasilitas navigasi tersebut tetap andal sehingga dapat dimanfaatkan oleh kapal yang melintas.
Ahmad Romdan, Ketua Tim Teknis Pos Pemeliharaan Banten Periode I dan II sekaligus teknisi menara suar, telah lebih dari 30 tahun menjalani tugas tersebut. Menurutnya, pekerjaan menjaga mercusuar bukan sekadar memastikan lampu menyala, tetapi berkaitan langsung dengan keselamatan dan efisiensi pelayaran.
“Menara suar itu sendiri adalah sebagai sarana bantu navigasi dan salah satu alat bantu dari pelayaran kapal-kapal supaya mereka dapat berlayar dengan selamat dan efisien,” kata Ahmad dalam HubTalks Episode 26.
Cahaya sebagai Penunjuk Posisi
Sebagai bagian dari Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), mercusuar membantu kapal mengenali posisi dan karakteristik suatu wilayah. Perannya menjadi semakin penting ketika pelayaran berlangsung pada malam hari atau dalam kondisi cuaca yang kurang baik. Cahaya yang dipancarkan memiliki karakteristik tertentu sehingga dapat menjadi referensi bagi navigator untuk menentukan posisi kapal dan memilih alur pelayaran yang aman.
“Dengan visual lampu yang memiliki karakteristik khusus, pelaut bisa menentukan berada di posisi mana dan alur yang aman. Ketika kapal melihat penanda di depannya, mereka bisa membaring posisi layar yang aman,” ujar Ahmad.
Keandalan pancaran cahaya tersebut juga berkaitan dengan sistem teknis mercusuar. Ahmad menjelaskan, pada sistem lama, posisi lampu harus sejajar dengan cermin reflektor agar cahaya dapat terfokus. Jika posisi lampu berubah sehingga pancaran jatuh atau naik, jangkauan cahaya menjadi lebih pendek dan hanya dapat terlihat kapal yang berada lebih dekat.
“Kalau sistem yang lama, posisi lampu itu harus fokus. Antara lampu dan cermin reflektor harus sejajar. Jangan sampai sinarnya jatuh atau naik sebab sinar yang dipancarkan jadi pendek. Jadi hanya terlihat oleh kapal-kapal dekat saja. Artinya tidak sesuai dengan yang diterapkan di Permenhub PM 25 Tahun 2011, yaitu minimal daya pancar 20 mil laut,” jelas Ahmad.
Keandalan yang Harus Dijaga
Untuk memastikan fungsi mercusuar berjalan sebagaimana mestinya, pemeliharaan dilakukan setiap hari. Petugas tidak hanya memeriksa lampu, tetapi juga memastikan sumber daya listrik, seperti genset maupun aki, berada dalam kondisi baik.
“Yang utama adalah mempersiapkan keandalan alat navigasi supaya tetap berjalan kondusif, karena peralatan infrastruktur kita harus bisa dimanfaatkan oleh pengguna di laut secara handal. Dalam cuaca bagaimanapun lampu tidak boleh mati,” ungkap Ahmad.
Apabila terjadi gangguan, petugas harus segera melaporkannya kepada pimpinan agar kondisi tersebut dapat ditindaklanjuti dan menjadi notice to mariners. Dengan demikian, informasi mengenai kondisi fasilitas navigasi dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan dalam pelayaran.
Tetap Relevan di Era Navigasi Modern
Perkembangan teknologi navigasi membuat kapal kini memiliki berbagai perangkat untuk membantu menentukan posisi. Salah satunya adalah GPS. Namun, menurut Ahmad, keberadaan teknologi modern tidak serta-merta menghilangkan fungsi mercusuar.
GPS memiliki kelemahan berupa deviasi yang perlu diperhitungkan. Ketika kapal berlayar semakin jauh, titik posisi dapat semakin melebar sehingga nakhoda tetap perlu melakukan evaluasi terhadap posisi kapal.
“Ketika kapal berlayar semakin jauh, titiknya bisa melebar. Nakhoda harus membaring dan mengevaluasi titik layar pada malam hari. Dengan adanya mercusuar yang memiliki koordinat tetap, para navigator bisa memastikan posisi mereka,” ujar Ahmad.
Setiap mercusuar juga memiliki karakteristik pancaran cahaya yang berbeda. Ritme nyala dan padam menjadi salah satu pembeda antara satu mercusuar dengan lainnya.
“Misalnya 3 detik hidup kemudian mati beberapa detik, lalu hidup lagi. Jadi ada perbedaan ritme,” jelasnya.
Karena itu, perkembangan teknologi navigasi tidak serta-merta menggantikan mercusuar. Berbagai sistem navigasi justru dapat saling melengkapi dalam membantu pelaut memperoleh informasi mengenai posisi dan arah selama pelayaran.
Lebih dari Sekadar Sarana Navigasi
Fungsi mercusuar tidak berhenti pada keselamatan kapal. Bangunan yang berdiri di sejumlah wilayah pesisir dan pulau-pulau terpencil juga memiliki nilai strategis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurut Ahmad, mercusuar dapat menjadi penanda daratan sekaligus penanda teritorial sebuah negara. Keberadaannya juga dapat memiliki nilai sejarah, seperti yang terdapat di Cikoneng yang berkaitan dengan pembangunan Jalan Daendels.
“Fungsi mercusuar bukan hanya sarana bantu navigasi, tapi juga bisa menjadi penanda teritorial sebuah negara dan penanda daratan. Bahkan di Cikoneng, bertepatan dengan pembangunan Jalan Daendels, menara ini menjadi titik awal penanda histori,” ucap Ahmad.
Ahmad juga menyinggung peristiwa Sipadan-Ligitan sebagai salah satu pembelajaran penting. Setelah peristiwa tersebut, pemerintah Indonesia membangun kembali sejumlah mercusuar di pulau-pulau terluar.
Menjaga Cahaya, Menjaga Keselamatan
Di tengah perkembangan teknologi navigasi yang semakin modern, mercusuar tetap memiliki tempat penting dalam membantu manusia membaca laut. Sebagai titik tetap dengan koordinat dan karakteristik cahaya tertentu, mercusuar memberikan referensi yang dapat digunakan pelaut dalam menentukan posisi dan arah.
Namun, di balik setiap cahaya mercusuar terdapat pekerjaan manusia yang memastikan fasilitas tersebut tetap berfungsi. Petugas harus menjaga keandalan perangkat, melakukan pemeliharaan, serta memastikan fasilitas dapat digunakan dalam berbagai kondisi cuaca. Pada akhirnya, mercusuar bukan sekadar bangunan dengan lampu di puncaknya. Ia merupakan bagian dari sistem yang mendukung keselamatan pelayaran sekaligus menjadi penanda wilayah dan daratan Indonesia.
Cahaya mercusuar mungkin hanya terlihat sebagai titik terang di tengah luasnya laut. Namun bagi pelaut, cahaya tersebut dapat menjadi referensi untuk menemukan posisi dan menentukan arah. Sementara bagi para petugas yang menjaganya, memastikan cahaya itu tetap menyala berarti menjalankan tanggung jawab untuk mendukung pelayaran yang aman dan efisien.
Di tengah laut yang luas dan terus berubah, mercusuar tetap berdiri sebagai titik tetap menjaga cahaya, memberikan arah, dan mendukung keselamatan pelayaran Indonesia. (FM/ME/HG/LOL)
