Jakarta – Jauh sebelum listrik dikenal dan teknologi navigasi berkembang seperti sekarang, cahaya telah menjadi cara manusia memberikan tanda kepada pelaut di tengah gelapnya laut. Dari nyala api sederhana di atas menara, teknologi mercusuar terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Kini, sumber energi dan perangkat penerangannya semakin modern, termasuk dengan pemanfaatan tenaga surya.

Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa mercusuar bukan sekadar bangunan yang berdiri di tepi laut. Di balik cahaya yang membantu pelaut mengenali arah dan posisi, terdapat perkembangan teknologi, pemeliharaan fasilitas, serta sumber daya manusia yang harus terus mengikuti perubahan.

Menurut Ahmad Romdan, Ketua Tim Teknis Pos Pemeliharaan Banten Periode I dan II sekaligus teknisi menara suar, perkembangan teknologi mercusuar merupakan bagian dari perjalanan panjang dunia navigasi. Selama menjalankan tugasnya, Ahmad menyaksikan bagaimana peralatan navigasi berkembang dari teknologi sederhana menuju sistem yang lebih modern.

Ahmad menyebut sejarah mercusuar telah melalui berbagai tahapan. Pada masa awal, cahaya berasal dari api yang dinyalakan di atas menara pada zaman Mesir Kuno. Teknologi kemudian berkembang menggunakan gas asetilena, beralih ke genset, hingga kini mulai memanfaatkan tenaga surya.

“Sejarah mercusuar dimulai dari api di menara pada zaman Mesir Kuno, berkembang menggunakan gas asetilena, genset, hingga sekarang tenaga surya. Perkembangan peralatan modern dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) harus terus kita ikuti,” ucap Ahmad dalam Podcast HubTalks Episode 26.

Dari Api hingga Tenaga Surya

Perubahan sumber energi tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi mercusuar terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Dari sistem penerangan yang mengandalkan api, kemudian gas dan genset, kini teknologi memungkinkan pemanfaatan energi surya sebagai salah satu sumber daya.

Namun, perkembangan teknologi tidak berarti seluruh perangkat lama harus ditinggalkan. Sejumlah peralatan lama masih dapat dimanfaatkan selama kondisinya memungkinkan. Modernisasi juga dilakukan dengan menghadirkan perangkat pendukung untuk memastikan fungsi penerangan tetap berjalan apabila terjadi gangguan pada perangkat utama.

“Kalau alat-alat lama alhamdulillah masih bisa digunakan. Dari dinas sendiri karena ada modernisasi, sudah ada lampu pendukung sebagai backup lampu utama. Ketika lampu utama tidak berfungsi, backup-nya yang kita gunakan,” ujar Ahmad.

Keberadaan lampu cadangan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan fungsi mercusuar. Dengan adanya sistem pendukung, petugas memiliki alternatif ketika lampu utama mengalami gangguan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa modernisasi bukan semata-mata mengganti teknologi lama dengan perangkat baru. Modernisasi juga berarti membangun sistem yang lebih andal dengan tetap mempertimbangkan peralatan yang masih dapat digunakan.

Teknologi Berkembang, SDM Harus Beradaptasi

Peralatan yang semakin modern tentu membutuhkan kemampuan manusia yang juga terus berkembang. Bagi Ahmad, penguasaan teknologi tidak dapat dipisahkan dari pengalaman dan proses belajar yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika pertama kali bertugas di bidang navigasi, Ahmad banyak belajar dari rekan-rekan yang lebih senior. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari mereka menjadi bekal dalam menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

“Ini lebih ke sharing dengan teman-teman senior, berkolaborasi di lapangan supaya tetap handal kita harus bersinergi satu sama lain. Kita ambil jiwa korsa itu harus ada di sana karena kita jauh dari keramaian. Jadi sosialisasi kita dengan kawan-kawan kita itu, dari situlah kita menimba ilmu. Kita belajar dari mereka, mereka memberikan ilmunya dan pemahaman. Selain itu juga kita ada pendidikan-pendidikan dari dinas itu sendiri,” tutur Ahmad.

Proses pembelajaran tersebut berlangsung melalui berbagai cara. Selain berbagi pengalaman dengan senior dan berkolaborasi dengan rekan di lapangan, terdapat pula pendidikan yang diberikan oleh dinas. Dengan demikian, perkembangan teknologi diikuti dengan peningkatan kemampuan petugas yang mengoperasikan dan memelihara fasilitas tersebut.

Bagi petugas yang bekerja di wilayah terpencil, kolaborasi dan jiwa korsa juga memiliki arti penting. Ketika lokasi kerja jauh dari keramaian, rekan kerja menjadi bagian dari lingkungan yang saling mendukung sekaligus menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman.

Teknologi untuk Manusia

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak hanya berbicara tentang perangkat yang semakin canggih. Bagi Ahmad, pekerjaan sebagai insan transportasi memiliki makna ketika apa yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

“Tentunya salah satunya supaya kita hidup bermanfaat bagi manusia lainnya ya. Kalau kita ambil kata bijaknya yaitu sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari cara Ahmad memaknai pekerjaannya di bidang navigasi. Peralatan dapat berubah, sistem dapat berkembang, tetapi tujuan akhirnya tetap berkaitan dengan manfaat bagi manusia. Hal tersebut juga menjadi refleksi Ahmad ketika berbicara mengenai Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas). Menurutnya, peringatan Harhubnas tidak semata-mata menjadi agenda tahunan atau kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk melihat kembali peran sektor transportasi dalam menghubungkan wilayah dan manusia.

“Harhubnas bukan hanya seremonial, tapi momen kita menghubungkan kepulauan dan manusia serta menyelamatkan transportasi. Kebanggaan saya adalah insyaallah bisa banyak menyelamatkan jiwa dalam transportasi laut,” ujar Ahmad.

Sebagai negara kepulauan, konektivitas antardaerah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan transportasi laut. Di dalamnya terdapat berbagai unsur yang bekerja untuk memastikan perjalanan dapat berlangsung, termasuk sarana bantu navigasi dan para petugas yang menjaga keandalannya.

Menjaga Integritas di Tengah Perubahan

Perkembangan teknologi akan terus berjalan. Peralatan navigasi dapat berubah dan semakin modern, tetapi tanggung jawab manusia di balik teknologi tetap menjadi bagian penting. Ahmad berpesan kepada para insan transportasi untuk tetap menjalankan tugas dengan integritas dan tanggung jawab, apa pun skala pekerjaannya.

“Kepada teman-teman petugas di mana pun berada, tetap berkiprah, jaga integritas, dan bertanggung jawab. Sekecil apa pun pekerjaan kita, lakukan yang terbaik untuk keselamatan,” pesannya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat berdiri sendiri. Perangkat yang semakin modern tetap membutuhkan manusia yang memahami cara menggunakannya, mampu merawatnya, dan memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab yang melekat pada pekerjaannya. Tanggung jawab menjaga sarana bantu navigasi juga tidak hanya berada di tangan petugas. Masyarakat memiliki peran untuk ikut menjaga fasilitas transportasi yang menjadi bagian dari kepentingan bersama.

“Untuk masyarakat, mari kita bersama-sama menjaga, menghormati, dan merasa memiliki sarana bantu navigasi. Jangan dirusak atau dihilangkan karena fasilitas transportasi adalah milik kita bersama,” pungkas Ahmad.

Menjaga Jejak, Menyambut Masa Depan

Perjalanan teknologi mercusuar dari api, gas asetilena, genset, hingga pemanfaatan tenaga surya memperlihatkan bahwa sistem navigasi terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Namun, perubahan tersebut tidak menghapus nilai dari perjalanan panjang yang telah dilalui. Di balik setiap teknologi terdapat manusia yang belajar, beradaptasi, dan memastikan fasilitas tetap dapat digunakan. Ada pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, pengalaman yang dibagikan di lapangan, serta pendidikan yang terus dilakukan untuk menghadapi perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, evolusi mercusuar bukan hanya cerita tentang perubahan sumber energi atau perangkat penerangan. Ia juga merupakan cerita tentang manusia yang menjaga teknologi tetap berfungsi dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh pengguna transportasi laut. Dari cahaya api sederhana hingga teknologi yang memanfaatkan energi surya, satu hal tetap sama, cahaya itu hadir untuk membantu manusia menemukan arah.

Dan di balik cahaya tersebut, ada insan transportasi yang terus bekerja, beradaptasi, dan mengabdi menjaga fasilitas, menjaga keselamatan, serta memastikan konektivitas antarmanusia dan kepulauan Indonesia tetap berjalan. (FM/ME/HG/LOL)