Sebuah kisah tentang penerbangan perintis, pelayanan, dan harapan masyarakat di ujung timur Indonesia.
Kabut pagi khas pegunungan masih menyelimuti kawasan Bandar Udara Kambuaya, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Bagaikan sutra tipis yang memeluk lereng-lereng hijau. Di antara nyanyian burung-burung di pagi hari, sayup-sayup terdengar suara aktivitas dari luar jendela perumahan Bandar Udara Kambuaya.
“Selamat pagi, anak…!”
“Selamat pagi, anak…!”
“Pagi, Mama!” sahut Hotop, salah seorang pegawai Bandara Kambuaya. “Mama mau berangkat, kah?” tanyanya sambil berjabat tangan. Sudah menjadi tradisi di Papua untuk menyapa sambil berjabat tangan.
“Iya, anak…!” jawabnya sembari tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Bah, Mama, pesawat masih lama. Mama datang tempo sampe!”. Jadwal pesawat Susi Air hari itu pukul 11.40 WIT.
“Mama minta maaf e, anak. Masih pagi sekali, su ganggu anak dorang!”
Ya, begitulah. Mereka datang tanpa jadwal penerbangan yang pasti, tanpa pemberitahuan lewat Gmail, WhatsApp, atau media komunikasi lainnya seperti yang lazim digunakan masyarakat di perkotaan. Mereka datang hanya berdasarkan tiket yang dibeli. Mereka tidak akan tahu apakah pesawat delay atau cancel. Bahkan, mereka datang hanya berdasarkan jadwal pesawat yang mereka ketahui. Mereka percaya kepada sebuah janji dari petugas bandara bahwa mereka pasti terbang, pasti duduk di kursi pesawat, dan mengangkasa bersama senyum ramah pilot Susi Air.
“Mama tunggu di terminal, e… Saya dengan teman-teman dorang siap-siap dulu. Nanti kita bantu Mama angkat barang dan timbang bagasi Mama punya,” jawab Hotop sembari melemparkan senyum terbaiknya pagi itu.
Foto: Penumpang dan petugas dalam suasana pemeriksaan di Bandara Kambuaya.
Bagi masyarakat perkotaan, penerbangan adalah tentang efisiensi waktu, liburan, kenyamanan kelas bisnis, dan gengsi. Tetapi bagi masyarakat pedalaman Papua, transportasi udara adalah urat nadi kehidupan. Pesawat perintis bukan hanya mengangkut penumpang, tetapi juga mengangkut sejuta harapan bagi warga pedalaman. Sayap-sayap besi itu membawa pasokan makanan, obat-obatan, guru, tenaga medis, serta harapan.
Demikian juga Bandara Kambuaya hadir untuk membantu mewujudkan harapan-harapan mereka. Bagaimana agar hasil kebun dapat dikirim ke kota, bagaimana generasi muda masyarakat Maybrat dapat pergi untuk melanjutkan pendidikan, bagaimana orang sakit dapat segera dievakuasi, bahkan, bagaimana jenazah dapat kembali ke kampung halaman.
Bandara Kambuaya menghubungkan masyarakat Kabupaten Maybrat dengan ibu kota Provinsi Papua Barat, Manokwari, dengan satu-satunya pesawat perintis tipe Cessna 208 yang melayani penerbangan melalui Susi Air.
Sebagaimana kita ketahui, tantangan terbesar penerbangan perintis adalah cuaca buruk yang datang tanpa pemberitahuan dan dapat berubah setiap detik. Bandara Kambuaya mengerahkan segala upaya demi kelancaran penerbangan, mulai dari penjualan tiket, pengaturan batas kursi penerbangan yang hanya berkapasitas maksimal 12 kursi, komunikasi yang hanya melalui radio, hingga fasilitas yang masih terbatas.
Landasan pacu perintis Bandara Kambuaya berupa aspal hitam yang dikelilingi bukit dan tebing batu karang. Dari atas awan terdengar deru mesin turboprop Susi Air. Suasana langsung berubah riuh. Ratusan warga mulai dari penumpang, pengantar, hingga warga lokal, dari anak-anak sampai orang tua bergegas ke pinggiran apron yang hanya dibatasi pagar besi untuk menyaksikan roda belakang Susi Air menyentuh tanah mereka dan membawa kebahagiaan. Suara raungan pesawat adalah melodi yang paling indah bagi masyarakat Maybrat.
Modernisasi penerbangan Indonesia telah melahirkan banyak bandara besar dan megah. Namun, esensi sesungguhnya dari layanan yang merata dan inklusif justru hidup di tempat sunyi dan terpencil seperti Kambuaya. Jembatan udara yang menembus jarak inilah yang merajut kemerdekaan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat di ufuk timur Republik.
Foto: Proses ground handling di Bandara Kambuaya.
“Manokwari, boarding…!” teriak Hotop dari tengah apron setelah petugas ground handling selesai memasukkan barang terakhir ke bagasi pesawat.
Mama Salonika berjalan dari terminal ke arah apron, menuju pesawat. Sambil menunjukkan boarding pass-nya, mama berkata, “Anak, terima kasih e… su urus Mama naik pesawat. Mama bawakan oleh-oleh apa dari Manokwari?”
Hotop mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan. “Selamat sampai tujuan ya Mama! Mama kembali dengan sehat ya…!” Ucapnya kepada Mama Salonika.
Pintu pesawat ditutup. Pesawat kembali mengangkasa, membelah awan, menembus langit, mengikis jarak. Saat roda belakang meninggalkan tanah Kambuaya, saat itu juga Bandara Kambuaya kembali sunyi.Pelayanan penerbangan hari itu telah selesai, dengan senyum yang lebar dan lepas.
Hotop mengaitkan pena kembali ke saku baju. Tak lupa para petugas Bandara Kambuaya selalu melakukan briefing seusai pelayanan untuk mengevaluasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Maybrat. Pelayanan hari itu ditutup dengan penuh sukacita, ditemani sekantong buah matoa oleh-oleh dari penumpang pesawat untuk dimakan bersama. Itulah kebahagiaan terbesar bagi mereka para petugas CREW KBX (Kambuaya), yang mungkin tidak didapatkan di bandara lain
_________________
Tulisan ini merupakan karya yang diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Hotop Sirait dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah II Medan.
_________________
