Jakarta - Survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan mencatat potensi pergerakan masyarakat selama periode Angkutan Lebaran Tahun 2026 (1447 H) mencapai 143,91 juta jiwa. Dalam realisasinya, jumlah tersebut bahkan melampaui proyeksi dengan total pergerakan mencapai 147,55 juta orang.
Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 tidak hanya menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi nasional. Besarnya arus mudik menjadi pemicu meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai sektor selama periode mudik.
Ekonom sekaligus Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah menilai fenomena mudik merupakan momentum penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa dampak ekonomi tidak semata berasal dari sektor transportasi, melainkan dari keseluruhan aktivitas masyarakat yang bergerak.
“Jadi kalau kita bicara tentang ekonominya, kita bukan bicara tentang angkutannya, tetapi bicara tentang fenomena bergeraknya masyarakat yang memberikan dampak terhadap ekonomi karena meningkatkan aktivitas ekonomi. Belanja pengeluaran yang kemudian menggerakkan berbagai aktivitas yang memunculkan value added (penciptaan nilai tambah),” jelas Piter dalam podcast HubTalks pada Selasa (21/4).

Pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan transportasi, bahan bakar, konsumsi makanan dan minuman, hingga belanja di daerah tujuan. Rangkaian konsumsi ini kemudian menciptakan perputaran ekonomi yang luas, mulai dari sektor transportasi, UMKM, hingga pariwisata lokal.
“Bayangkan 147,55 juta orang bergerak yang berarti ada transaksi yang terjadi. Mereka beli tiket, BBM, minuman, dan makanan. Jadi sepanjang perjalanan itu akan memunculkan aktivitas di berbagai rangkaian transaksi ekonomi. Sampai di sana (tempat mudik) mereka juga berbagi Tunjangan Hari Raya (THR). Dari THR itu nantinya dibelanjakan lagi. Itulah yang menyebabkan periode mudik lebaran mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi,” lanjut Piter.
Sementara itu,Direktur Lalu Lintas Jalan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Rudi Irawan menyampaikan bahwa pemerintah turut memperkuat dampak ekonomi tersebut melalui berbagai kebijakan stimulus di sektor transportasi. Kebijakan ini bertujuan menjaga keterjangkauan biaya perjalanan sekaligus memastikan kelancaran mobilitas masyarakat. Beberapa kebijakan yang diterapkan antara lain program mudik gratis, pemotongan tarif penyeberangan terpadu, serta diskon tarif tol di sejumlah ruas jalan.
“Stimulus ekonomi diberikan di sektor darat, salah satunya untuk penyeberangan. Ada stimulus tiket terpadu yang harganya turun kurang lebih 21%. Juga ada stimulus lain yang berkaitan dengan diskon tarif jalan tol di beberapa ruas jalan tol. Ini jadi salah satu upaya pemerintah dalam membangkitkan ekonomi masyarakat,” ujar Rudi dalam podcast HubTalks, Selasa (21/4).
Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya meringankan beban biaya perjalanan, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi selama periode mudik. Piter menilai bahwa pengelolaan mudik tahun ini merupakan contoh orkestrasi kebijakan yang berjalan efektif karena melibatkan berbagai pihak secara terintegrasi.Menurutnya, pendekatan serupa dapat menjadi rujukan dalam merancang kebijakan di sektor lain, termasuk dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Saya memuji bahwa orkestrasi kebijakan dalam penanganan mudik ini patut dicontoh. Saya berharap sekali orkestrasi ini bisa dilakukan juga di berbagai kebijakan lainnya, misalnya untuk mencapai target pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi 8%. Saya belum melihat orkestrasinya, bagaimana untuk mencapai hal itu. Pemerintah perlu merujuk kepada orkestrasi kebijakan yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan agar dapat mewujudkan target tersebut,” pungkas Piter.
Tingginya pergerakan masyarakat selama mudik menunjukkan bahwa transportasi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya pada momentum hari besar keagamaan. Melalui sinergi kebijakan dan peningkatan layanan, pemerintah diharapkan mampu menjaga momentum ini agar penyelenggaraan Angkutan Lebaran di masa mendatang tidak hanya aman, nyaman, dan selamat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. (ADT/HG/ME)
