Jakarta – Sektor transportasi sebagai urat nadi pembangunan bangsa, membutuhkan sumber daya manusia (SDM) andal dan kompeten. Di balik pesawat yang mengudara, ada manusia yang memastikan setiap sistem bekerja secara akurat. Ada yang menerbangkan, mengendalikan, mengawasi, merawat, mengatur lalu lintas udara, hingga mengambil keputusan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Di era digital, teknologi penerbangan berkembang semakin cepat, karenanya tuntutan terhadap SDM transportasi yang kompeten, agile dan persistent dalam mengejar perkembangan teknologi pun turut meningkat.

Pesawat yang semakin canggih. Sistem navigasi semakin presisi. Digitalisasi, otomatisasi, artificial intelligence (AI), hingga teknologi tanpa awak seperti drone membutuhkan kehadiran SDM berkualitas yang menguasai cara penggunaan, mampu membaca situasi, disiplin menjalankan prosedur, dan yang paling penting, memiliki kesadaran bahwa setiap keputusan dalam transportasi memiliki konsekuensi terhadap keselamatan.

Menyoal kualitas SDM, pendidikan memegang peran yang sangat besar, bukan hanya untuk menghadirkan insan transportasi masa depan yang kompeten, tetapi juga memiliki karakter kuat, sehingga siap menjawab tantangan masa depan sektor transportasi.

Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) sendiri, terus menyiapkan SDM transportasi yang kompeten sekaligus memiliki karakter untuk mengampu masa depan transportasi Indonesia. Pendidikan di sekolah-sekolah transportasi Kemenhub tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional di sektor darat, laut, perkeretaapian, dan udara, tetapi juga membentuk insan transportasi yang disiplin, berintegritas, adaptif, dan memiliki budaya keselamatan.

Skalanya pun tidak kecil. Pada Desember 2025, sebanyak 2.563 lulusan Program Pola Pembibitan Kementerian Perhubungan dilantik sebagai calon ASN, terdiri atas 733 lulusan sektor darat dan perkeretaapian, 911 sektor laut, serta 919 sektor udara. Mereka sebelumnya menjalani pendidikan selama tiga hingga empat tahun, termasuk praktik magang atau On the Job Training (OJT), sebelum memasuki dunia kerja.

Sementara itu, dalam skala pendidikan dan pelatihan yang lebih luas, BPSDMP mencatat 524.544 lulusan diklat transportasi bersertifikat kompetensi sepanjang 2024, atau melampaui target 449.808 lulusan pada tahun tersebut. Angka itu menggambarkan besarnya ekosistem pendidikan dan pengembangan SDM yang dipersiapkan untuk menopang sektor transportasi nasional.

Namun, di balik angka-angka tersebut terdapat pekerjaan yang jauh lebih substantif: bagaimana memastikan setiap lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap memikul tanggung jawab keselamatan.

Bagi Dr. Anton Abdullah, Dosen Politeknik Penerbangan Palembang sekaligus Dosen Berprestasi Kementerian Perhubungan, kompetensi teknis merupakan fondasi penting. Tetapi fondasi itu harus berjalan bersama karakter.

“Menurut saya seorang insan transportasi itu selain pandai teknis ya harus dilengkapi dengan karakter. Karakter ini bisa dipenuhin dengan disiplin, tanggung jawab yang tinggi sama safety mindset,” ujar Anton dalam podcast HubTalks episode 27.

Menurut Anton, safety mindset tidak dapat dibentuk secara instan ketika seseorang pertama kali memasuki dunia kerja. Kesadaran terhadap keselamatan harus menjadi bagian dari kebiasaan sejak seseorang masih berada di lingkungan pendidikan.

“Safety mindset itu kita berikan dari awal sehingga tercipta budaya safety sudah dari kehidupan di asramanya,” ucap Anton.

Karena itu, kehidupan taruna bukan semata-mata rangkaian rutinitas pendidikan. Bangun pagi, ibadah, olahraga, makan, apel hingga mengikuti kegiatan pembelajaran menjadi bagian dari proses pembentukan disiplin dan tanggung jawab.

“Jadi kebiasaan-kebiasaan taruna disiplin tinggi, bangun pagi, ibadah, olahraga, makan, apel pagi sampai kependidikan siang itu sudah diatur. Kedisiplinannya sudah ada di situ. Mereka harus punya tanggung jawab dengan rutinitas apa yang akan mereka lakukan. Jadi harus ada karakternya,” jelas Anton.

Pembiasaan tersebut menjadi penting karena dunia transportasi adalah dunia yang menuntut manusia mampu mengambil keputusan secara tepat, bahkan dalam waktu yang sangat singkat.

“Jadi kalau suatu momen tertentu sebagai insan transportasi itu harus siap mengambil keputusan, sedetik itu juga meski sekecil apapun dampaknya bisa fatal,” ucap Anton.

Dalam konteks penerbangan, kesadaran tersebut menjadi semakin penting. Keselamatan bukan hanya persoalan apakah seseorang menguasai prosedur atau mampu mengoperasikan teknologi. Keselamatan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang bersikap ketika menghadapi tekanan, bagaimana ia menjalankan prosedur ketika tidak ada yang mengawasi, dan bagaimana ia berani mengambil keputusan ketika keselamatan menuntutnya bertindak.

Dengan kata lain, safety mindset bukan sekadar pengetahuan tentang keselamatan. Ia harus menjadi cara berpikir, cara bersikap, dan pada akhirnya menjadi kebiasaan.

Menyiapkan Manusia untuk Teknologi yang Terus Berubah

Tantangan pendidikan transportasi kini semakin kompleks. Perkembangan digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi drone membuat kebutuhan kompetensi di bidang penerbangan terus berubah.

Situasi tersebut juga menuntut para pendidik untuk tidak berhenti belajar. Dosen tidak cukup hanya menguasai pengetahuan yang pernah dipelajari ketika menempuh pendidikan. Mereka harus terus mengikuti perkembangan teknologi agar apa yang diajarkan tetap relevan dengan kebutuhan industri.

“Kita up to date ya. Rata-rata kemampuan mereka (taruna) sesuai dengan eranya gitu ya. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi kami para dosen. Artinya dengan kemajuan teknologi yang pesat ini, dengan perubahan perkembangan zaman yang begitu drastis kita harus tetap bisa menguasai dan ngontrol juga,” ujar Anton.

Di sinilah pentingnya hubungan yang erat antara lembaga pendidikan dan dunia industri. Pendidikan transportasi tidak dapat berjalan dalam ruang yang terpisah dari perkembangan dunia kerja.

Perubahan teknologi dan kebutuhan industri harus menjadi masukan bagi lembaga pendidikan dalam memperbarui kurikulum, metode pembelajaran maupun kompetensi tenaga pendidik.

“Up to date-nya dosen dan perguruan tinggi. Lembaga pendidikan ini harus terus relevan, ada jembatan yang erat sama mitra industri atau stakeholder. Kalau ada perubahan baru, maka disampaikan, disosialikan sama kami. Sehingga kita susun bareng kurikulum, enggak hanya PT sendiri atau hanya dosen, tapi pemangku-pemangku lain kita libatkan,” ucap Anton

.

Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya BPSDMP memperkuat link and match antara pendidikan dan dunia usaha maupun industri. Kemenhub juga terus memperbarui kurikulum dengan memperhatikan perkembangan regulasi dan teknologi, menghadirkan praktisi industri sebagai bagian dari proses pembelajaran, serta memberikan kesempatan kepada dosen dan instruktur untuk memperbarui pengalaman melalui magang di dunia kerja.

Sebab pendidikan transportasi tidak cukup berhenti di ruang kelas. “Enggak bisa hanya teori, harus ada ruang praktik tersendiri. Ada skala prioritasnya. Dari yang semester bawah misalnya, dasar-dasar terus meningkat sampai terakhir perkumpulannya. Nanti berbeda dengan perguruan tinggi biasa, kita selalu ada namanya On the Job Training,” jelas Anton.

OJT menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dengan realitas. Di sanalah taruna belajar bahwa prosedur memiliki konsekuensi, bahwa komunikasi harus tepat, bahwa koordinasi tidak boleh diabaikan, dan bahwa sebuah keputusan kecil dapat berdampak besar terhadap keselamatan.

Teknologi Boleh Semakin Canggih, Manusianya Harus Semakin Siap

Perkembangan teknologi pada akhirnya bukan alasan untuk mengurangi pentingnya manusia. Justru sebaliknya. Semakin kompleks sistem transportasi, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas orang-orang yang mengoperasikan, mengawasi dan mengambil keputusan di dalamnya.

“Kualitas SDM itu sangat menentukan masa depan transportasi Indonesia. Ada yang memastikan sistem berjalan. Siapa yang menggunakan teknologi canggih? Manusia. Manusia enggak ujug-ujug bisa instan (mengoperasikan) transportasi maupun drone. Harus diajarin. Ajarinnya lewat mana? Ruang kelas dong. Jadi kalau pinjam kata Mas Dony tadi keselamatan transportasi adalah sebuah journey,” ucap Anton.

Karena itu, investasi pada SDM transportasi sesungguhnya adalah investasi pada keselamatan transportasi itu sendiri.

Sekolah-sekolah transportasi Kemenhub memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Dari ruang kelas, laboratorium, simulator, asrama hingga pengalaman praktik di lapangan, proses pendidikan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menyiapkan manusia yang kelak akan berada di garis depan sistem transportasi Indonesia.

Dan perjalanan itu tidak hanya menghasilkan orang-orang yang tahu bagaimana menjalankan pekerjaannya, tetapi juga memahami mengapa pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.

Bagi Anton, penghargaan sebagai Dosen Berprestasi yang diterimanya pun tidak semata-mata tentang pencapaian individu. Ia melihat setiap insan transportasi memiliki kontribusi dan perannya masing-masing.

“Ini bukan soal yang terbaik, dosen yang terbaik, dosen yang paling unggul. Setiap insan transportasi itu punya kontribusinya masing-masing, punya perannya masing-masing,” ujar Anton.

Pada titik inilah pendidikan transportasi menemukan maknanya yang lebih luas.

Seorang dosen mungkin tidak berada di kokpit. Seorang instruktur mungkin tidak berada di menara pengawas. Seorang taruna mungkin belum pernah mengambil keputusan dalam situasi darurat. Tetapi apa yang mereka lakukan hari ini—belajar, berlatih, membangun disiplin, memahami prosedur, membentuk karakter—pada akhirnya menjadi bagian dari rantai keselamatan yang jauh lebih panjang.

Sebab keselamatan transportasi tidak lahir pada saat sebuah pesawat mengudara. Keselamatan dipersiapkan jauh sebelumnya. Ia dibentuk di ruang kelas, ditempa dalam latihan, dibiasakan melalui kedisiplinan, dan ditanamkan menjadi karakter.

Mencetak insan penerbangan masa depan bukan sekadar mencetak tenaga yang mampu menguasai teknologi. Yang jauh lebih penting adalah mencetak manusia yang ketika berhadapan dengan teknologi, prosedur, tekanan dan pilihan-pilihan sulit, serta tetap menempatkan keselamatan sebagai kompas utama.

Daftar Pustaka

  1. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan. (2025). Laporan Kinerja BPSDMP Tahun 2024. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
  2. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2025). Lantik 2.563 Calon ASN Lulusan Program Pembibitan, Menhub Dudy Sampaikan Tiga Pesan Penting.