Jakarta – Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 mencatat capaian positif dengan tingkat kepuasan Masyarakat yang tinggi. Berbagai survei menunjukkan bahwa mayoritas pemudik menilai manajemen mudik tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan efektivitas kebijakan yang diterapkan pemerintah.

Hasil survei Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) mencapai 82,15%, meningkat 3,45 poin dibandingkan tahun 2025. Selain itu, lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pun mencatat sebanyak 88,8% responden menyatakan kepuasannya. Temuan ini juga diperkuat oleh Indikator yang mencatat 85.3% masyarakat yang melakukan mudik merasa puas terhadap manajemen mudik Lebaran tahun ini.

Peningkatan kepuasan ini tidak lepas dari kebijakan strategis yang diterapkan selama masa Angkutan Lebaran 2026. Direktur Lalu Lintas Jalan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Rudi Irawan, menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, kepolisian, BUMN, dan pihak swasta.

Menurutnya, sejumlah kebijakan menjadi kunci dalam mengurai kepadatan arus mudik, mulai dari penerapan Work From Anywhere (WFA) sebelum puncak arus mudik, rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah di jalan tol, hingga pengaturan operasional di pelabuhan penyeberangan.

"Kita memisahkan pergerakan orang dan barang. Di lintas penyeberangan kita siapkan pelabuhan Merak (Banten) - Bakauheni (Lampung) dan Ketapang (Banyuwangi) - Gilimanuk (Bali). Kita juga menerapkan delay system, khususnya memanfaatkan buffer zone untuk menghindari penumpukan di pelabuhan," jelasnya dalam Podcast HubTalks pada Selasa (21/4).

Bagi Piter Abdullah, Ekonom sekaligus Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, perubahan ini terasa secara personal sebagai pemudik yang rutin melakukan perjalanan lintas pulau. Ia menilai kualitas mudik tahun ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Saya melakukan mudik sudah belasan tahun baik itu ke Jawa maupun ke Sumatra. Saya melihat adanya perbaikan terus-menerus dari tahun ke tahun. Pemerintah harus terus berusaha belajar memperbaiki setiap kebijakan dalam mengelola arus mudik. Contoh satu arah (one-way) di jalan tol, itu jadi kebijakan yang sangat berani. Dulu saya pernah mengalami ke Jogja butuh 24 jam. Saya kira sekarang ini jangankan 24 jam, mungkin 14 jam sudah terlalu lama," ujar Piter dalam kesempatan yang sama.

Selain aspek kelancaran, sisi keselamatan juga menunjukkan tren positif. Data Kepolisian mencatat jumlah kecelakaan lalu lintas selama masa Angkutan Lebaran 2026 sebanyak 3.517, turun sebesar 6,31% dibandingkan tahun 2025. Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia turun signifikan sebesar 31,19%, dari 436 jiwa menjadi 300 jiwa.

"Kalau kita mau melihat sebuah orkestrasi kebijakan, saya melihatnya orkestrasi pengaturan mudik adalah salah satu orkestrasi terbaik karena melibatkan banyak pihak. Karena diorkestrasi dengan sangat baik maka dari waktu ke waktu volume mudik dan tingkat kecelakaan itu semuanya membaik. Membaik dalam artian penurunan sekitar 6% dan 31% itu angka yang sangat signifikan", tutur Piter.

Capaian ini merupakan hasil dari berbagai upaya preventif yang dilakukan pemerintah, mulai dari ramp check kendaraan, peningkatan pengawasan di titik-titik rawan, hingga program mudik gratis yang mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Di saat yang sama, kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berkendara juga terus meningkat.

Upaya tersebut menjadi semakin krusial mengingat tingginya mobilitas masyarakat pada Lebaran tahun ini. Berdasarkan hasil survei, potensi pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 143,92 juta orang. Namun dalam pelaksanaannya, jumlah tersebut bahkan melampaui proyeksi.

"Memang kalau kita lihat hasil survei potensi pergerakan masyarakat 143,92 juta orang, tapi pada pelaksanaannya itu ada 147,55 juta orang yang melakukan perjalanan. Hal lain yang menggembirakan, adanya peningkatan penggunaan kendaraan angkutan umum sekitar 10% di semua moda, baik darat, laut, dan keteta api. Artinya masyarakat sudah bisa melihat bahwa tahun ini pelayanan transportasi umum ini cukup baik," terang Rudi.

Peningkatan penggunaan transportasi umum tersebut menjadi indikator penting bahwa kebijakan yang diterapkan tidak hanya mampu mengurai kepadatan, tetapi juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat ke moda transportasi yang lebih aman dan efisien.

Meski menunjukkan capaian positif, pemerintah tetap harus menaruh perhatian pada sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan. Salah satunya adalah fasilitas rest area, terutama dari sisi kebersihan dan kenyamanan yang masih menjadi catatan bagi para pemudik.

Ke depan, pemerintah berkomitmen akan terus melakukan evaluasi, inovasi, dan kian memperkuat kolaborasi lintas sektor yang telah terbangun, supaya penyelenggaraan Angkutan Lebaran semakin aman, nyaman, efisien, tertib, dan selamat. (ADT/HG/ME)