Shap Ndan, Sederhana. Hanya dua kata. Alih-alih melantunkan Siap Komandan, ia mengucapkannya dengan antusias dan memang selalu begitu. Terkadang saking antusiasnya sampai keluar percikan air dari mulutnya tatkala kata tersebut keluar. Di Terminal Tidar Magelang, Shap Ndan sudah menjadi jargon paten milik seorang pria yang setahun lagi akan memasuki masa purna bakti; Slamet. Pimpinan boleh berbeda silih berganti. Namun baginya, jika perintah atau arahan sudah dikumandangkan jawaban Slamet tetap sama; Shap Ndan. Seakan menjadi wirid, dua kata tersebut sering dirapalkannya. Bertemu pimpinan, Shap Ndan. Ada rekan kerja yang sekadar mengajak berjabat tangan sekalipun jawabannya tetap sama; Shap Ndan. Sampai akhirnya kami mendapat ide Shap Ndan agaknya pas disematkan untuk beliau sebagai ciri khas pembeda. Maklum saja nama “Slamet” sedang mengalami inflasi di Terminal Tidar Magelang. Jadi, kalau hanya dipanggil “Slamet” kemungkinan besar beberapa kepala akan menoleh. Tetapi kalau ada Shap Ndan-nya, kami tahu siapa “Slamet” yang dimaksud.

Suatu kesempatan kami ngeghibah tipis-tipis sembari geleng-geleng kepala tentang pria paruh baya satu ini. Kami pernah menganggapnya robot. Bukan karena ia keras seperti besi, kaku dan monoton. Melainkan karena logika kami hampir tidak pernah sampai untuk memahami dari mana tenaganya berasal. Seolah tidak ada habisnya. Sejatinya kami amat penasaran dengan misteri ini. Pernah terbesit di pikiran kami untuk meraba tubuhnya sekadar mencari di mana letak tombol on/off-nya itu berada. “Dibilang manusia kok gak capek-capek, dibilang robot tapi kok bisa kentut,” demikian anggapan beberapa rekan mengenai sosok satu ini. Dalam dunia kerja dengan sistem 24 jam yang terbagi dalam tiga shift, rasa lelah dan kantuk biasanya menjadi momok yang sulit dihindari. Terlebih setelah menjalani shift malam. Umumnya orang, pagi hari setelah turun jaga seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk memulihkan tenaga setelah semalam suntuk bekerja. Tetapi manusia robot bukan kaleng-kaleng ini seperti memiliki aturan tubuh yang berbeda. Ia tetap keukeuh ingin berkontribusi semaksimal mungkin. Padahal pimpinan pun sudah memberikan imbauan kepada regu yang turun jaga untuk beristirahat dan boleh tidak mengikuti manakala ada kegiatan di pagi harinya.

Ketika mayoritas dari kami mulai merasakan beratnya kelopak mata, kepala yang kliyengan dan tubuh yang sempoyongan tatkala turun jaga, Slamet masih sanggup stand by di lapangan. Bahkan ketika matahari mulai menyengat pun, ia tetap berada di tempatnya untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana awal. Dedikasi Slamet tidak selalu berhenti ketika jadwal kerjanya selesai. Hari libur pun rupanya bukan selalu berarti benar-benar libur bagi Slamet. Ketika ada kegiatan di terminal, termasuk kerja bakti atau kegiatan lainnya, ia kerap menyempatkan diri untuk hadir dan berkontribusi. Pernah suatu pagi kami semua mendapat arahan untuk mempersiapkan acara kunjungan Menteri Perhubungan di Terminal Tidar Magelang, kebetulan pada hari itu Slamet libur. Mungkin saja di hari yang sama Slamet bisa menikmati waktu bersama cucu atau bahkan bersama entok-entoknya di kandang sembari menyeruput kopi hitam favoritnya. Tapi Slamet memilih hadir. Tidak hanya hadir, tapi turut berpartisipasi demi kelancaran acara. Seolah-olah ada prinsip sederhana dalam dirinya: Jika bisa, kenapa tidak. Jika diberi tugas, kerjakan. Dan jika ditanya, jawab: Shap Ndan.

Banyak istilah dari kami untuk menggambarkan etos kerja Slamet ini. Selain robot, kami juga pernah sayup-sayup membatin bahwa Slamet mungkin ora duwe udel, mengingat satu pekerjaan selasai ia langsung bersiap untuk pekerjaan lainnya tanpa sedikit pun istirahat. Kami pun mengakui hampir tidak ada yang mampu mengimbangi semangat dan dedikasi Slamet di Terminal Tidar Magelang. Seolah-olah kegiatan apapun jika Slamet on fire, peluang beres serta tepat waktunya besar meskipun kami tidak menafikan peran rekan-rekan lainnya. Usianya tidak lagi muda. Penglihatannya pun mulai berkurang. Hal ini terlihat dari caranya menatap layar ponsel yang bagi orang umum teramat dekat. Awal mula kami tahu perilaku Slamet dengan ponselnya tersebut membuat kami merasa heran sekaligus iba. Pernah kami sarankan pula untuk menggunakan kacamata baca, tapi Slamet segan untuk memakainya. Alasannya sepele, Slamet takut dianggap tua, meskipun pada kenyataannya keriput di leher dan tangan beliau tidak bisa melawan keinginannya untuk tetap muda. Namun demikian, ada satu hal yang tampaknya belum ikut menua; semangat untuk selalu bergerak. Mungkin bagi Slamet berdiam diri membuat tubuhnya terasa gatal atau pegal-pegal.

Seperti halnya Gatotkaca yang memiliki julukan otot kawat balung wesi, begitu juga Slamet. Ia dikaruniai otot betis dan tulang kaki yang kokoh. Bagaimana tidak, di ‘lapangan’ Slamet mampu berdiri berjam-jam tanpa duduk. Mengatur lalu lintas, setelah itu menanyakan jumlah penumpang kepada setiap kondektur bus yang masuk terminal, serta tak goyah ketika membantu membawa barang bawaan penumpang menuju bagasi bus. Dari delapan jam kerja agaknya kesempatan duduk ia gunakan manakala ia hendak makan atau sembahyang. Mungkin tukang becak pun akan minder kalau tahu Slamet memiliki kemampuan ini. Sampai saat ini misteri di balik betis dan kakinya yang solid itu belum terkonfirmasi secara pasti oleh yang bersangkutan. Namun ada informasi dari sumber yang tidak terpercaya bahwa Slamet rutin mengonsumsi jamu jawa.

Berbicara tentang Slamet dan misterinya seolah menjadi bahan refleksi bagi kami yang bekerja bersamanya. Entah itu dedikasinya, etos kerjanya, bahkan rasa memilikinya terhadap Terminal Tidar Magelang. Namun dari semua refleksi tersebut, ada satu momen yang membuat kami menunduk penuh hormat kepadanya. Sebuah percakapan ringan seakan menguak tabir misteri tentang bagaimana Slamet bisa sedemikian rupa selama ini kepada instansi tempatnya mengais rejeki. “Saya akui kalau saya ini bodoh. Tidak bisa input data, tidak bisa komputer dan perangkat teknologi lainnya. Diangkat pegawai di sini saja bagi saya sudah Alhamdulillah banget. Jadi hanya waktu dan tenaga yang bisa saya berikan.” Kami terdiam. Spontan suasana ketika itu menjadi hening. Ternyata di balik tenaganya yang tahan banting tersimpan alasan yang cukup mendalam. Di saat dunia di mana orang-orang berusaha agar terlihat pintar di tempat kerja padahal aslinya kosong, Slamet justru sebaliknya. Ia akui dengan gentle bahwa ia tidak punya apapun yang patut dibanggakan selain hanya waktu dan tenaga.

Kami akhirnya merenung: mungkin selama ini kami salah menyebut Slamet sebagai robot yang ora duwe udel. Jika Robot bekerja pakai seperangkat program yang dirancang, Slamet bekerja pakai hati dan rasa memiliki yang besar ditambah tanggung jawab yang diembannya. Robot tidak mampu memilih sendiri, tapi Slamet memilih untuk tetap hadir bahkan pada hari yang seharusnya menjadi waktu istirahatnya. Dan justru karena ia manusia, pilihan itu menjadi jauh lebih bermakna. Tidak semua orang datang ke dunia kerja dengan kemampuan yang sama. Ada yang unggul dalam teknologi, cekatan mengolah data, kuat dalam administrasi, pandai berkomunikasi, mampu membuat keputusan, dan ada Slamet, seorang petugas yang merasa dirinya hanya punya tenaga.


"Kerja itu tidak perlu selalu terlihat sempurna di mata orang lain. Cukup lakukan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab"

- Slamet -


Melalui Slamet pula kami menyadari bahwa sesungguhnya pelayanan publik memang membutuhkan banyak jenis manusia. Sebab sebuah sistem tidak hanya berjalan karena teknologi. Di balik data yang masuk, ada orang yang penuh tanggung jawab mau berdiri berjam-jam. Di balik bus yang datang dengan selamat ke terminal, ada petugas yang berdiri memantau. Di balik sebuah kegiatan yang berlangsung tertib, ada orang yang tetap berjaga bahkan ketika matahari mulai menyengat kepala. Dan di balik pelayanan yang terlihat sederhana, ada manusia yang bersedia melakukan pekerjaan yang sama berulang kali tanpa perlu diketahui banyak orang.

Suatu hari nanti mungkin penglihatannya akan semakin berkurang. Tenaganya mungkin tidak lagi sekuat sekarang. Seragam itu mungkin pada akhirnya akan berhenti dikenakan. Tetapi kami semua meyakini bahwa Terminal Tidar Magelang akan tetap mengingat satu suara. Suara yang setiap kali perintah datang, hampir selalu memiliki jawaban yang sama: Shap Ndan. Dua kata sederhana dari seorang Slamet yang merasa hanya punya tenaga. Namun melalui tenaga itulah, ia telah ikut membuat perjalanan orang lain tetap bergerak. Terhubung untuk melayani. Bergerak untuk negeri.



"Kerja itu yang
penting jujur dan telaten, insya Allah berkah”
- Slamet -

"Kerja keras itu seperti menanam pohon. Memang melelahkan di awal, tapi nanti kita sendiri yang akan menikmati buah manisnya"

- Slamet -

––––––––––––––––––

Namanya Slamet. Tanpa nama belakang. Apalagi nama depan. Staf Terminal Tidar Magelang bagian Pengatur Lalu Lintas. Lahir di Magelang pada 26 Oktober 1969. Senang jalan-jalan. Entah itu jalan-jalan naik kendaraan ataupun jalan kaki. Selain itu gemar juga memelihara hewan ternak. Pernah menjadi juragan entok sesaat. Sebelum akhirnya sekarang lebih senang memelihara kesehatan.

––––––––––––––––––

Tulisan ini merupakan karya yang diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Saiful Ramdhani dari BPTD Kelas 1 Jawa Tengah.

––––––––––––––––––