Jakarta - Setiap kali terjadi kecelakaan pesawat, perhatian publik sering kali tertuju pada satu perangkat yang dianggap menyimpan jawaban atas peristiwa tersebut yakni black box atau kotak hitam. Rekaman didalamnya sering dinantikan untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum kecelakaan. Namun, mengungkap penyebab kecelakaan ternyata tidak sesederhana menemukan dan membaca data hanya dari satu perangkat.
Dalam proses investigasi, black box memang menjadi salah satu sumber informasi penting. Meski begitu, data didalamnya perlu dibaca bersama bukti lainnya agar penyebab kecelakaan dapat dipahami secara sistematis dan menyeluruh. Proses inilah yang menjadi pekerjaan para detektif investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam mengungkap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan transportasi.
Ketua KNKT Ahmad menjelaskan, black box pesawat terdiri atas dua perangkat dengan fungsi berbeda, yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Keduanya merekam informasi yang membantu investigator menelusuri kondisi penerbangan sebelum suatu kecelakaan terjadi.
“Black box atau kotak hitam pesawat terdiri dari dua perangkat yakni FDR atau Flight Data Recorder yang merekam parameter penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, arah, dan kinerja sistem pesawat. Yang kedua adalah CVR atau Cockpit Voice Recorder yang merekam suara atau percakapan di kokpit,” jelas Ahmad dalam podcast HubTalks Episode 29.
FDR membantu investigator memahami parameter penerbangan dan kinerja sistem pesawat, sedangkan CVR menyediakan rekaman suara di kokpit. Informasi dari kedua perangkat tersebut dapat menjadi petunjuk untuk menyusun gambaran kejadian. Namun, temuan dari black box tetap perlu dikaitkan dengan kondisi pesawat dan berbagai informasi lain yang diperoleh selama investigasi.
Ahmad turut menyebut, kemampuan laboratorium KNKT untuk mengunduh data dari kedua perangkat tersebut sudah mencapai 95%. Kemampuan ini menjadi bagian dari dukungan teknis dalam proses investigasi, meskipun analisis kecelakaan tidak hanya bergantung pada rekaman black box.
“Laboratorium KNKT sudah 95% mampu mengunduh data FDR dan CVR. Namun, black box bukan satu-satunya sumber analisis, melainkan dikombinasikan dengan kondisi pesawat, pemeriksaan teknis, kondisi cuaca, keterangan saksi, dan informasi relevan lainnya,” ujar Ahmad.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa satu sumber informasi tidak selalu cukup untuk menjelaskan keseluruhan peristiwa. Investigator perlu memeriksa berbagai bukti, membandingkan keterangan, dan melihat keterkaitan antara beberapa faktor sebelum menyusun kesimpulan. Sebab, kecelakaan transportasi dapat melibatkan lebih dari satu faktor yang saling berkaitan.
Proses tersebut juga membutuhkan waktu. KNKT perlu mengumpulkan informasi dari pihak-pihak yang relevan, melakukan analisis, kemudian merumuskan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil akhir dari laporan KNKT bukan sekadar penjelasan mengenai apa yang terjadi, melainkan juga rekomendasi keselamatan agar faktor penyebab kecelakaan dapat diperbaiki dan kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Dalam mencari penyebab permasalahan itu harus komprehensif secara keseluruhan. Jangan sampai setelah diberikan suatu rekomendasi dan ditindaklanjuti, penyebab yang sama terulang kembali,” ujar Ahmad.
Di tengah proses itu, potongan video atau foto yang beredar di media sosial sering memunculkan berbagai dugaan. Sebagian masyarakat mungkin merasa telah menemukan jawaban dari hanya sebuah rekaman singkat, padahal informasi yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian. Ketika dugaan disebarkan seolah-olah merupakan fakta, akibatnya hal itu justru membuka ruang bagi kesimpulan yang keliru.
Ahmad mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menentukan penyebab kecelakaan hanya berdasarkan materi yang belum terverifikasi.
“Masyarakat juga diimbau untuk jangan terburu-buru menyimpulkan penyebab kecelakaan dari potongan video yang belum terverifikasi sebelum KNKT menyelesaikan laporan finalnya. Beri ruang dan waktu kepada KNKT untuk mencari penyebab dengan sumber data kepada regulator, operator, penumpang, awak kapal, awak driver dan masinis, begitu juga nanti kepada stakeholder lainnya,” imbau Ahmad.
Menurut Ahmad, investigasi harus didasarkan pada data yang dikumpulkan dan dianalisis secara menyeluruh, bukan pada kesimpulan yang muncul lebih dahulu di ruang publik.
“Kami ingin yang tercepat tapi lebih baik lengkapi dulu faktor penyebab dari data-data untuk kami analisis baru ditemukan beberapa faktor sehingga tidak terulang faktor tersebut dan kami keluarkan suatu rekomendasi keselamatan untuk ditindaklanjuti oleh penerima rekomendasi nantinya kami pantau tindak lanjut tersebut,” kata Ahmad.
Imbauan itu bukan berarti masyarakat tidak boleh mengikuti perkembangan informasi mengenai kecelakaan. Publik tetap dapat mencari tahu dan memahami peristiwa yang terjadi. Namun, ada perbedaan antara mencari informasi dan menetapkan kesimpulan sebelum bukti-bukti diperiksa secara utuh.
Ahmad juga mengingatkan bahwa kecelakaan bukan sekadar peristiwa yang menjadi bahan perbincangan. Di balik setiap kejadian, terdapat korban dan keluarga yang harus menghadapi dampaknya. Karena itu, cara masyarakat merespons informasi juga perlu mempertimbangkan perasaan keluarga yang sedang mengalami kehilangan.
“Sikapi setiap kecelakaan dengan empati terhadap korban dan keluarga. Kalau dipaksakan ada suatu potongan foto atau video, lalu menarik suatu kesimpulan itu kurang berempati, kurang baik. Biarlah kami yang bekerja dan tunggu laporan final dari kami yang tentunya terbuka dan bisa dilihat kapan saja,” ujar Ahmad.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi merupakan bagian dari sikap menghormati korban dan keluarga. Menahan diri dari spekulasi bukan berarti mengabaikan pentingnya keselamatan, melainkan memberi ruang bagi proses pencarian fakta agar berjalan sebagaimana mestinya.
Hasil investigasi KNKT yang telah final dapat diakses masyarakat melalui situs resmi knkt.go.id. Keterbukaan laporan memberi kesempatan bagi publik untuk mempelajari temuan dan rekomendasi keselamatan berdasarkan hasil investigasi, bukan semata-mata mengandalkan potongan informasi yang beredar di media sosial.
Dengan begitu, black box bukan perangkat yang secara otomatis memberikan satu jawaban atas seluruh penyebab kecelakaan. Data di dalamnya merupakan bagian dari rangkaian bukti yang perlu dianalisis bersama informasi lain. Begitu pula dengan informasi yang beredar di ruang digital, tidak semua yang terlihat sudah cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Memberi waktu kepada investigator KNKT untuk bekerja dan bersikap empati kepada korban merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Sebab, tujuan akhir investigasi bukan memenangkan dugaan siapa pun, melainkan menemukan pelajaran yang dapat diterapkan untuk memperkuat keselamatan transportasi di masa mendatang. (TIM-AH/HG/ME)
